Alhamdulillah saya masih di beri kenikmatan dan kesehatan untuk dapat menulis di Blog saya yang menjadi naungan untuk melepas kata demi kata, untuk terus mengagungkan asma Allah.

Entah mengapa saya jadi rindu akan kegiatan yang sudah lama saya tinggalkan hampir 4 tahun lamanya…

Kegiatan yang saya maksud adalah Jaulah (Bahasa yang akrab di pakai di tempat saya di kota Bekasi), atau sering di sebut Jama’ah Tabligh.

Sebuah kegiatan yang dimana melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad Saw serta para sahabatnya untuk terus berdakwah di jalan Allah Swt, tanpa mengenal lelah pergi meninggalkan keluarga di rumah dengan niat karena Allah sesuatu yang sangat jarang kita temui sekarang ini.

Tidur di lantai beralaskan sarung, makan bersama-sama di piring besar terasa nikmat luar biasa yang saya rasakan dulu. Mengaji bersama membaca Fadhillah Amal belajar berceramah adalah kegiatan yang di lakukan sehari-hari.

Mungkin banyak dari kita yang pernah di kunjungi oleh jama’ah tabligh, mungkin di pikiran mereka adalah orang asing yang menggunakan pakaian Gamis atau pakaian yang biasa di pakai warga Pakistan, dengan baju lengan panjang terjuntai sampai lutut dan terbelah di kanan dan kiri pakaian sepinggang dan menggunakan celana ngatung di atas mata kaki.

“Siapa mereka??? mau apa datang ke masjid kita bawa-bawa alat masak lagi…” itu yang biasa di ucapkan oleh warga di sekitar masjid, mungkin karena mereka belum tahu apa sich jama’ah tabligh itu…

Biasanya kegiatan yang kami lakukan di mulai ba’da sholat shubuh yaitu mendengarkan ceramah sampai dengan matahari menerangi bumi… kegiatan selanjutnya ialah pengajian Al-Qur’an dan pembahasannya… setelah itu istirahat untuk sekedar melepas lelah dan kantuk yang masih mendera biasanya waktu seperti ini di gunakan untuk membersihkan diri dan belanja ke pasar terdekat untuk keperluan sarapan pagi, makan siang dan makan malam.

setelah belanja ke pasar selesai biasanya sambil menunggu makanan selesai di masak, kita berbincang mengenai pentingnya agama Allah dan pentingnya berdakwah di jalan Allah sungguh indah rasanya kalau ingat waktu itu…

Saat makan pagi tiba kami berkumpul bersama membuat kelompok masing-masing biasanya saat makan menggunakan piring besar hanya muat untuk 4-5 orang untuk satu piring besar terasa kembali indahnya kebersamaan nikmatnya makanan yang kami makan, dengan menggunakan sunah nabi duduk cara nabi saat makan, mencicipi garam sebelum makan, menggunakan 3 jari sebagai mana sunnah nabi… sampai-sampai tidak terasa tidak ada 1 buah butir nasi pun yang tersisa…

itulah sekelumit kisah makan pagi yang begitu indah dan nikmat, waktu yang di gunakan setelah makan adalah mengunjungi ketua RT atau RW untuk sekedar membahas tentang jama’ah yang datang, dan menyampaikan maksud dan tujuan. Jamaah yang lain pun ikut berpergian untuk sekedar bersapa dengan orang-orang yang di temuinya tukang sayur, tukang ojeg dll.

Dengan niatan mereka bisa ikut mendengarkan ceramah setelah sholat Dhuzur, Setelah Sholat Dhuzur pun kami mendengarkan ceramah dan pembahasan singkat tentang sahabat-sahabat Nabi…

Setelah ceramah selesai waktu bagi kami untuk melepas lelah, ada yang sibuk dengan melanjutkan aktivitas membaca Al-Qur’an ada yang sekedar mengobrol kecil dengan sesama jemaah dan ada juga yang istirahat untuk tidur.

Menjelang sholat Ashar kami bersiap untuk Sholat berjamaah kembali, setelah sholat kami bermusyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Amir (Pimpinan Jama’ah) sampai dengan esok hari, dan menentukan siapa yang akan melakukan jaulah keliling kerumah saudara-saudara muslim di daerah sekitar masjid yang kita kunjungi.

Dengan di dampingi seorang warga, kita biasa berkeliling mengajak untuk sholat berjamaah di masjid dan mengundang untuk dapat bisa mendengarkan ceramah ba’da magrib.

Santun, lemah lembut dalam penyampaian dan sabar itu yang saya rasakan saat mengajak saudara-saudara muslim kita untuk datang ke masjid untuk sholat berjamaah, sungguh niatan yang sangat mulia di sisi Allah.

Jama’ah tabligh tidak pernah membicarakan politik, SARA ataupun yang tidak berhubungan dengan Agama Allah Swt.

Saya teringat saat ada jama’ah dari sekitar wilayah masjid bertanya kepada saya, “Mas lulusan pesantren apa???” Saya hanya tersenyum dan hanya berkata saya hanya orang biasa yang sedang belajar mendalami agama Islam. Kebanyakan orang masih belum tahu apa itu jama’ah tabligh buat apa mereka menginap di masjid-masjid berhari bahkan berbulan-bulan lamanya.

Meninggalkan keluarga demi untuk berjuang di jalan Allah berdakwah tanpa lelah, mengeluarkan sedikit rezeki untuk usaha dakwah ini karena dakwah ini tidak di biayai oleh siapapun.

Indahnya bila kita dapat saling mengingati 1 dengan yang lainnya tentang pentingnya Agama Allah di muka bumi ini, siapa yang akan menolak jika di ajak masuk ke surganya Allah… malahan menjauhi nerakanya Allah….

Saya berdoa untuk Papa saya yang sedang pergi untuk berdakwah di jalan Allah dengan Jama’ah tabligh yang lain di Kuningan Jawa Barat, semoga di beri kekuatan kesehatan dan keselamatan dunia dan akhirat…

Tetap berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartamu…

Tulisan ini di tujukan untuk semua Jama’ah Tabligh khususnya Papa saya.

Wassalam,

Dio Prasetyo – 12 May 2010

Iklan