Assalamu alaikum Wr Wb…

Saya menarik nafas dalam-dalam seakan belum mengerti keinginan manusia….

Banyak intisari yang akan kita dapat untuk membahas hal ini yaitu masalah kiblat, pertama karena saya membaca sebuah berita di salah satu media online bahwa pergeseran tanah menyebabkan arah kiblat dari 18.000 masjid menjadi berubah dan tidak sempurna.

Saya mengecek apakah benar banyak mushola dan masjid yang berubah arah kiblatnya, saya bekerja di sebuah perusahaan dan mengadakan sholat jum’at di area perusahaan karena ketida pahaman kami, kami membuat arah kiblat semau kami.

Tapi ternyata kami di komplain saat Khotib sudah naik mimbar, karena beliau membawa kompas di sakunya hampir 75° melenceng ke kiri yang seharusnya serong ke kanan (Terima kasih kepada Bpk Ust. Abdul Wahab).

Nah kejadian ini pun terjadi dimushola depan rumah saya di bekasi setalah saya cek melalui http://www.qiblalocator.com/ ternyata arah kiblat mushola di depan rumah saya salah, karena Papa saya pengurus mushola saya informasikan hal tersebut kepada beliau.

Tetapi setelah saya pulang ke bekasi dan sholat di mushola didepan rumah saya posisi kiblat tidak berubah, setelah sholat saya bertanya kepada Papa saya “kenapa belum di rubah pak arah kiblatnya?” tanya saya.

Papa saya memberikan jawabannya “Sudah Papa bicaran ke pengurus mushola yang lain, mereka bilang tidak masalah kiblat berubah yang penting niatnya…”

Ini yang mau saya bahas disini, pertama memang kebanyakan orang akan berkata demikian “Kan tergantung niatnya, bukan karena kiblatnya…” betul itu niat lebih penting dari kiblat.

Tapi…ada tapinya nich, yang menentukan kiblat itu siapa dan kemana arah kiblat itu. Allah Swt lah yang menuliskan dalam Al Qur’an :

QS.2: 148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS.2: 142. Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”

Seperti Contoh saat Rosulallah baru menjadi Nabi arah kiblat yang pertama kali kearah mana…? ke arah Yerusallam ke arah Masjidil Aqsa, lalu Allah Swt memerintahkan perubahan arah kiblat ke Ka’bah di Mekkah.

sekarang kalau kita sholat menghadap Yerusallam apakah sholat kita sah, sah saja tetapi harus ada alasannya. Jangan karena niatan kita saja untuk menghadap Allah Swt, tetapi harus dilihat di hati kira yang menentukan arah kiblat adalah Allah Swt kemanakah Allah Swt menentukan arah kiblatnya apakah tertulis dalam Al Qur’an…

Ada di Al Qur’an, jadi janganlah menjadikan anda keras kepala akan hal ini karena itu hanyalah hawa nafsu anda dan syaitan yang terus menerus menggoda manusia kejalan yang salah.

Berarti anda yang menentukan arah kiblat, bukan Allah Swt…

Berarti anda menghianati Al Qur’an yang jelas-jelas menerangkan arah kiblat…

Memang kita membutuhkan sebuah niat, kalaupun kita tidak ada petunjuk dimana arah kiblat kita bisa sholat kearah mana pun itu. Islam tidak mengikat hal-hal yang seperti ini, tetapi apakah bukti-bukti yang di tunjukan dan adanya alat yang membantu yang menerangkan arah kiblat salah tetapi masih tidak di gubris dan di tentang dengan alasan niatan Lillahitaalla…

Ke egoisan dan mau menang sendiri inilah yang akan di jatuhkan oleh Allah Swt, seakan-akan dia menjamin bahwa dengan tidak merubah arah kiblat yang salah dan hanya dengan niatan saja walau ada bukti melencengnya arah kiblat inilah manusia…

Hal-hal seperti ini yang membuat manusia di atas segala-galanya, Allah Swt di lupakan dan Ayat-ayat Allah Swt pun di lupakan hanya ada hawa nafsu dari manusia itu sendiri yang berperan…

Hanya Allah Swt yang menentukan segalanya, Hanya Allah Swt yang berkuasa dan semoga Allah Swt menuntun kita kejalan yang lurus kejalan yang engkau ridhoi… amin…

Semoga tulisan ini menjadi bahan acuan dan pembelajaran untuk kita semua menjadi hamba-hamba yang bersyukur dan berserah diri.

Akhir kata Wassalamu alaikum Wr Wb.

Dio Prasetyo – 24 September 2010

Iklan