Satu setengah jam dari Krakow jarak ke kotanya, ia menggunakan mini-bus menuju masjid Krakow agar dapat berbuka puasa bersama. Kamila namanya, si cantik yang pemalu. Ramadhan 1432 Hijriyah ini adalah ramadhan keempat bagi Kamila. Bayangkanlah, ‘betapa sepinya’ tiga ramadhan lalu yang telah dilewati, ia makan sahur dan berbuka puasa sendirian saja. Saya salut dan bangga pula pada saudari kita ini.

Kamila berujar, “Sebenarnya sejak kecil saya telah tertarik pada islam. Jujur dalam hati, saya merasakan keanehan akan ajaran ‘tuhan anak-tuhan bapa’ di agama saya dahulu. Juga saya merasa dibohongi akan kehadiran sinterklas, peri gigi, dan sejenisnya itu. Akhirnya saya lampiaskan dengan gaya gaul awut-awutan, saya merasa tak mengenali jati diri sendiri…”, suara Kamila sangat pelan, lemah lembut, dan bahasa Inggrisnya masih kurang lancar.

Mamanya sangat prihatin dan ‘hampir putus asa’ dengan keadaan dirinya, nilai sekolahnya merosot, dan ia tampak bandel. Ia tak mau di ajak ke gereja karena setiap ia punya pertanyaan tentang ‘hal-hal aneh’ di hatinya, selalu tak mendapat jawaban yang memuaskan. Apalagi tentang arah tujuan hidup, masa’ sih hidup ini cuma mengalir begitu saja, kemudian jika berbuat dosa, sudah ‘ditanggung’ oleh Tuhan?, itu salah satu contoh pertanyaan yang berasal dari nurani terdalam.

Suatu hari di sekolahnya ada guru baru, guru ini seorang muslim, mengajar bahasa Arab sebagai salah satu program bahasa asing yang baru diuji-coba di sekolah. Hanya beberapa bulan sang guru menetap di kota itu. Namun karena Kamila hobi membaca dan tertarik dengan islam, maka ia mendekati sang guru dan banyak bertanya tentang segudang pertanyaan hatinya selama ini. “Sebenarnya saya sudah lama membuka-buka pelajaran tata cara sholat, di internet…”, ujarnya pada sang guru. Sang guru kaget, dan ia melihat sikap Kamila memang sangat antusias, Kamila selalu serius bertanya-tanya tentang apapun yang berkaitan dengan islam, ia berdiskusi dengan gurunya, bahkan ia mengikuti forum diskusi keislaman di beberapa situs dakwah internasional. Termasuk diskusi tentang ‘kenapa Islam disudutkan atas banyaknya kasus terorisme, padahal pada kenyataannya pelaku terorisme bukanlah muslim!’, Kamila mengambil kesimpulan bahwa orang-orang pembenci muslim merupakan biang kerok fitnah yang keji tersebut.

Ia bilang kepada ibunya, “Mama… Saya minta maaf akan kebandelan saya selama ini. Tapi ketahuilah, selama ini memang saya tidak yakin dengan agama yang mama ajarkan…”. Sang mama mengatakan, “Kamu sudah besar. Kamu bisa mencari keyakinanmu sendiri, saya serahkan saja apapun pilihanmu, asalkan saya bisa melihat bukti bahwa kamu memang anak yang baik…”.

Karena keluarganya yang sudah ‘membebaskan pilihan’ jalan hidup, didukung bacaan buku-buku keislaman yang sudah banyak dihadiahi oleh sang guru, di hari ketika hatinya teguh dan sangat mantap, ia bersyahadat di hadapan sang guru. Subhanalloh…

Kamila bilang kepadaku, “Sister… ketika saya masuk islam, mamaku bilang, ‘kamu lebih baik saat telah menjadi muslimah’, Saya merasakan perubahan hebat pada diri ini yang tidak bisa diutarakan melalui kata-kata…”. Kamila merasa yakin bahwa Tuhan hanya satu, Tiada Tuhan selain Allah ta’ala, dan kita bisa berdo’a ‘secara langsung kepada-Nya’, bukan melalui perantaraan manusia lain, dan tidak perlu melakukan ‘pengakuan dosa’ di hadapan perantara-perantara Tuhan sebagaimana ajaran agamanya terdahulu. Saya merinding, merasakan getaran-getaran di sanubari, Ya Allah, Engkau mempertemukan saudari di depanku ini dengan hikmah yang besar, curahan hidayah-Mu buat diri hamba ini, setiap detik harus bersyukur, kenikmatan menjadi muslim adalah sebuah anugerah teramat mahal.

Mamanya sangat bangga tatkala Kamila mampu memperbaiki nila-nilai akademisnya, jelas karena hatinya sudah tenang, pergolakan batin yang dulu menggelora sudah terjawab, sudah mengetahui ‘arah tujuan’ hidup yang selama ini dicari-cari. Ia yakin bahwa nanti kita akan mempertanggung-jawabkan amalan di dunia, dunia merupakan perjalanan mencari bekal buat kelak di akhirat. Kamila lulus sekolah dengan nilai yang baik, dan memasuki perguruan tinggi negeri dengan prestasi yang bagus. Ia menggeluti jurusan bioteknologi dan insya Allah akan lulus sarjana dua tahun lagi.

“Ramadhan kali ini sungguh saya bahagia sekali. Saya setiap hari searching di internet tentang komunitas muslim, dan ketika seorang saudari muslimah (teman saya di jejaring sosial) mengabarkan bahwa sudah ada Islamic-centre di Krakow, maka saya kirimkan email ke muslimsinkrakow@googlegroups.com yang saya lihat di web Islamic-finder. Lantas saya bisa berkumpul bersama kalian di sini, subhanalloh… Terima kasih sisters, saya teramat senang bisa berbuka puasa bersama…”, curahan hati Kamila. Ukhuwah islamiyah memang selalu mengharukan, kalbu berpaut kalbu karena dikencangkan oleh ikatan cinta-Nya.

Kamila pun berharap, “Jika anda adalah orang-orang yang membenci islam, yang meragukan arah tujuan hidup, atau yang ikut-ikutan berpenyakit ‘islamofobia’, hendaklah banyak-banyak membaca dan memahami islam lebih baik lagi. Hampir semua media yang selalu menyudutkan muslim adalah media peraih keuntungan secara ekonomi dan politik, media yang dikuasai musuh-musuh islam. Maka netralkan hati anda, luruskan niat untuk benar-benar mencari informasi yang akurat, pasti anda akan merasakan getaran hati yang kuat ketika menyadari bahwa hanya islam agama yang benar.”, kalimatnya mantap.

Ia pun berdo’a semoga suatu hari orang tua dan keluarganya dapat memperoleh hidayah-Nya memasuki cahaya Islam sebagaimana dirinya (amiin). Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanya Islam. (baca tafsir qur’an surah Ali-‘Imran[3]:19).

Allah ta’ala mengingatkan kita, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa (kepadaNya) dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali-‘Imran[3]:102).

Semoga kisah Kamila menjadi ibroh dan pelajaran berharga buat kita semua. Saat ini, ia masih terus belajar menjadi sosok muslimah sejati, mohon turut dido’akan. Berbahagialah diri kita yang telah lama berbalut hidayah islam, mendapatkan area kerukunan dan kebersamaan dengan keluarga sepanjang waktu, berkumpul menikmati keindahan ramadhan dengan suasana yang kondusif, padahal ketahuilah di belahan bumi-Nya yang lain, misalnya di berbagai kota di Poland ini, perjuangan untuk memeluk islam dan merasakan kenikmatan ukhuwah islamiyah adalah sesuatu yang tak mudah dilakukan, saudari-saudari kita seperti Kamila ini telah ditempa beragam cobaan sebagai bagian dari perjuangannya mencari tahu tentang Tuhan Yang Maha Esa, tentang hakikat hidup yang sebenarnya. Ya Allah, mohon bimbinglah kami selalu…

Wallahu’alam bisshowab.

(bidadari_Azzam, @Islamic-Centre, Krakow, malam 22 ramadhan 1432 H)

Sumber : Arrahmah.com

Dio Prasetyo – 4 October 2011

Iklan