Bissmillahirahmanirahim…

Selamat pagi rekan-rekan dan sahabat tercinta kali ini saya ingin membahas tentang tragedi penembakan yang menimpa anggota kepolisian.

Dalam 2 bulan 4 Polisi sudah menjadi korban :

  1. Aiptu Dwiyatno, 7 Agustus 2013 di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. (MENINGGAL)
  2. Aiptu Kushendratna, seminggu setelahnya Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. (MENINGGAL)
  3. Bripka Ahmad Maulana, seminggu setelahnya Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. (MENINGGAL)
  4. Aipda Patah Saktiyono, 27 Juli 2013 di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. (SELAMAT DENGAN LUKA TEMBAK)
  5. Sukardi, 10 September 2013, didepan gedung KPK Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. (MENINGGAL)

Pagi ini menonton berita di salah satu TV Swasta Indonesia yang membahas hal ini katanya sih banyak perkiraan yang menjadi dalang penembakan, bisa orang bayaran yang lagi kena kasus korupsi, dan lain-lain.

Tetapi apa polisi tidak melihat ancaman yang diumumkan kelompok santoso (kalau polisi bilangnya TERORIS POSO) diyoutube beberapa bulan yang lalu yang kira-kira isinya seperti ini.

Kelompok Santoso

Kelompok Santoso

Pada video itu juga Santoso mengungkapkan mengapa dia dan kelompoknya terus melakukan perlawanan dan menyerukan pula kepada umat Islam perlawanan terhadap Densus 88. Karena Densus 88 telah bertindak kejam terhadap umat Islam.

“Antum telah merasakan bagaimana jahatnya Densus 88 kepada umatnya. Antum tahu bagaimana Densus 88 membantai saudara-saudara kita di Sulawesi,” kata seorang yang tidak diketahui identitasnya dalam video.

Kemurkaan mereka pada Densus 88 rupanya didasari peristiwa tewasnya Nudin yang diduga teroris di Poso pada 10 Juni lalu.

“Buat Ikhwan, khusus yang di Kota Poso, saya mendengar berita bahwa kalian melawan Densus 88. Sungguh ana bangga dan kagum melihat keberanian kalian,” tutur seorang sembari duduk di sebuah kain yang dihubungkan di antara dua pohon.

Dia mengajak untuk berperang melawan Densus 88. “Antum tidak perlu takut, tidak perlu bimbang menghadapi perlawanan Densus 88. Kita harus kokoh dan berani!,” ujarnya santai sambil memegang pistol.

Berarti analisa saya nih peperangan sudah di mulai, polisi sangat mudah di kenali dari pakaiannya tetapi kelompok teroris sangat susah di kenali 🙄 kalau seperti ini yang jadi korban malah polisi biasa bukan densus 88.

Ayo densus berani tidak keluar dari markas perang 1 lawan 1 pegang senjata dor dor dor kaya di pilem koboy hehehe…
Ini namanya senjata makan tuan, kok bisa di sebut senjata makan tuan sih kan polisi pembela kebenaran.
Jawabannya karena selama ini Densus 88 selalu menutupi hal yang mereka perbuat antara lain :
  1. Salah tangkap beritanya klik disini.
  2. Main tembak mati ditempat tanpa peradilan (Street justice – Mungkin ini yang di tiru oleh penembak polisi diatas).
  3. Tidak meminta maaf secara terbuka ke masyarakat (Malu mungkin kalau mukanya muncul di TV apa takut diburu sama Teroris).

Berarti pagi ini kita tutup sambil ngopi dengan kalimat “DENSUS 88 ANTI TEROR YANG DI TEROR” 😆

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk kita semua wassalamualaikum…

Dio Prasetyo – 12 September 2013

Iklan